![]() |
| Amos Kalami dan istrinya, Batseba Mobilala, memanen sagu di hutan hujan dataran rendah Malagufuk di Desa Malagufuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. (Dok. ISTIMEWA/ULET IFANSASTI) |
Editor Yunanto Wiji Utomo
Oleh Wawan Sujarwo*
KOMPAS.com - Indonesia sudah mengalami ketertinggalan dalam riset dan inovasi di hampir semua bidang. Mulai dari industri elektronika, kesehatan, kosmetika, komputer, manufaktur, transportasi, hingga kecerdasaran buatan (AI), kita jauh di belakang Eropa dan Amerika, bahkan negara-negara Asia Timur. Ketertinggalan ini membuat kita lebih banyak menjadi penonton dan konsumen produk-produk yang dihasilkan oleh negara-negara tersebut. Namun, janganlah kita muram. Indonesia sebenarnya masih memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan—bahkan menyalip negara-negara tersebut dengan riset biodiversitas darat dan laut. Sayangnya, selama ini kita sibuk melirik rumput tetangga yang lebih hijau dan lupa melihat potensi besar di tanah air.
Sebagai negara tropis, Indonesia diberkahi dengan kekayaan sumber daya
alam yang luar biasa. Namun selama ini kita hanya sibuk mengekstraksi
sumber daya alam tersebut dan kurang memanfaatkannya untuk pengembangan
inovasi berbasis riset. Inovasi dapat berujung pada penghiliran
(peningkatan nilai tambah) produk.
Dengan luas daratan mencapai 1,9 juta km persegi, banyak sekali ragam
tanaman yang bisa tumbuh di tanah tropis bernama Indonesia ini. Belum
lagi, keanekaragaman yang ada di lautan seluas lebih dari 3 juta km
persegi. Dalam artikel ini, sesuai bidang yang saya kuasai, saya akan
mengulas khusus kekayaan tumbuhan yang ada di daratan.
Kekayaan alam Indonesia
Menurut data POWO (The Plants of the World Online), ada hampir 400 ribu jenis tumbuhan berpembuluh di dunia. Sekitar 369 ribu di antaranya merupakan tumbuhan berbunga. Dari jumlah tersebut, diperkirakan ada sekitar 30 ribu jenis tanaman tumbuh dan berkembang di Indonesia.
Keberadaan tumbuhan berbunga sangat vital bagi kelangsungan hidup di
Bumi. Selain berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem,
mereka juga merupakan sumber pangan, obat, dan bahan baku industri.
Potensi biodiversitas luar biasa ini seharusnya ‘memprovokasi’ para
ilmuwan, akademisi, pelaku bisnis, dan komunitas untuk menghasilkan
produk-produk inovasi yang bisa diterima di pasar global.
Untuk tanaman pangan, misalnya, saya bersama rekan-rekan peneliti mengkaji beberapa tanaman pangan utama dunia seperti beras dan juga tanaman pangan lokal seperti talas dan ubi jalar. Penelitian dilakukan di tiga provinsi yang terkenal dengan keragaman tanaman yang tinggi: Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, dan Kepulauan Maluku. Hasilnya menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keragaman tanaman pangan (agrobiodiversitas) yang sangat kaya.
Banyak pula spesies unik yang belum teridentifikasi. Saat ini misalnya,
terdapat 10.092 sampel genetik padi yang dikumpulkan dan disimpan dalam
bank gen atau koleksi plasma nutfah. Sampel ini dikelola oleh
Kementerian Pertanian dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),
termasuk 54 varietas beras merah yang dikumpulkan dari seluruh
Indonesia.
Temuan kami di lapangan juga mengidentidikasi 91 etnovariat padi
(varietas padi lokal yang dikembangkan oleh masyarakat tradisional).
Kebanyakan di antaranya berasal dari Kalimantan Tengah (72) dan Jawa Tengah (15). Pada 2010, ditemukan 200 jenis talas di daerah Cibinong, Bogor. Pada 2014, sebuah misi pengumpulan atau penelitian di Jawa Tengah juga menemukan 28 jenis talas. Namun, penemuan ini baru mewakili sekitar 60 persen dari total keragaman talas di wilayah tersebut. Artinya, masih ada banyak jenis talas lain yang belum ditemukan atau terdokumentasi dalam misi tersebut.
Keragaman etnobotani
Selain keragaman tumbuhan, Indonesia juga memiliki etnik dan budaya yang
kaya. Interaksi antara komunitas masyarakat lokal dengan tumbuhan,
dikenal sebagai etnobotani.
Dengan etnobotani kita bisa memahami kegunaan tumbuhan secara empiris
yang telah dipraktikkan oleh masyarakat lokal sejak berpuluh atau bahkan
ratusan tahun. Contoh paling terkenal adalah jamu, yang telah diakui
sebagai ‘warisan budaya tak benda’ oleh UNESCO pada 2023. Ini
membuktikan bahwa interaksi budaya lokal dengan sumber daya tumbuhan
Indonesia sudah diakui dunia akan eksistensi dan kegunaannya.
Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) Kementerian Kesehatan sudah mendokumentasikan ribuan jenis tumbuhan obat yang digunakan oleh berbagai etnik, dari Sumatra hingga Papua. Namun, jika melihat data Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu), baru sekitar ratusan jenis tumbuhan yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan jamu. Riset dan pengembangan RISTOJA sejatinya bisa diperluas lagi dengan menyasar masyarakat yang tinggal di pedalaman pulau-pulau kecil dan terluar. Mereka pun memiliki pengetahuan lokal yang sangat berharga.
Kita bisa membayangkan bagaimana mereka mampu bertahan dengan akses
layanan kesehatan yang minim dan mengandalkan resep warisan leluhur
secara turun-temurun—yang dulunya telah melalui proses trial and error.
Beberapa di antaranya telah terbukti bermanfaat dan berkhasiat. Semua
kearifan lokal ini harus bisa kita manfaatkan.
Di negara-negara Asia Timur, rumah sakit herbal memiliki tingkat
okupansi lebih dari 70 persen. Meskipun biaya pengobatannya sebenarnya
lebih mahal dari rumah sakit modern, tapi pengobatan herbal lebih
digemari dan dipercaya oleh masyarakat.
Di Indonesia, klinik herbal Hortus Medicus di Tawangmangu sudah
menunjukkan potensi besar dalam memberikan pengobatan berbahan alam. Ini
bisa menjadi pemicu untuk memperluas riset, pengembangan produk, hingga
implementasi dalam bentuk klinik atau rumah sakit berbasis herbal.
Di Maluku, kita mengenal ‘Herbarium Amboinense’, buku catatan yang
berisi sekitar 1.200 jenis tanaman obat lokal yang didokumentasikan oleh
ahli botani kelahiran Jerman Georgius Everhardus pada abad ke-17. Di
Jawa ada dokumentasi pengetahuan lokal serupa dalam Serat Centhini, di
Pulau Dewata ada Usada Bali dan masih banyak lagi pengetahuan lokal yang
tersebar di seluruh Indonesia.
Pengetahuan lokal Indonesia ini tidak kalah pentingnya dengan temuan luar negeri, seperti penemuan obat malaria Artemisia oleh perempuan ilmuwan Cina, Tu Youyou yang meraih Nobel Kesehatan pada 2015. Contoh senyawa obat lain yang ditemukan melalui pengetahuan tradisional antara lain aspirin (obat pengencer darah dari Filipendula ulmaria), digoxin (obat jantung dari Digitalis purpurea), morphine (penghilang nyeri dari Papaver somniferum), quinine (obat malaria dari Cinchona pubescens), dan masih banyak lagi. Semua ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal kita berpotensi menghasilkan inovasi besar di masa depan.
Sudah saatnya Indonesia serius menggarap potensi dan kekayaan alam ini.
Dengan fokus pada sektor yang kita miliki, yakni keanekaragaman
tumbuhan, kita bisa menciptakan produk-produk inovatif yang berbasis
riset dan berpotensi menjadi pemasok utama kebutuhan pasar global.
Mengembangkan riset dan inovasi tentu tidak seperti cerita Candi
Prambanan yang katanya dibangun hanya dalam waktu semalam. Kita butuh
konsistensi dan napas yang panjang.
Jika fokus mengelola keanekaragaman hayati, dengan dukungan sumber daya
manusia unggul, infrastruktur riset memadai, pendanaan yang cukup, serta
konsistensi kebijakan yang berpihak pada riset, maka saya hakulyakin
kita bisa menciptakan inovasi yang mampu mengubah masa depan Indonesia.
* Profesor Riset Badan Riset dan Indovasi Nasional (BRIN)
Sumber: https://lestari.kompas.com/read/2025/02/11/093425086/indonesia-jangan-muram-kejar-ketertinggalan-lewat-riset-biodiversitas?page=all.
