
Cibinong – Humas BRIN. Ketua Kelompok Riset Pengetahuan Ekologi Lokal dan Tradisional (LOCALE), Pusat Riset Ekologi BRIN, Prof. Dr. Wawan Sujarwo, menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat besar, namun hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai fondasi ketahanan pangan nasional. Melalui paparannya bertajuk "Memetakan Potensi Pangan Lokal Nusantara: Data Ilmiah, Pengetahuan Ekologi Tradisional, dan Nilai Strategis bagi Ketahanan Pangan,” ia mengajak peserta untuk melihat kembali potensi pangan lokal melalui data ilmiah, kajian etnobotani, serta pengetahuan ekologi tradisional sebagai landasan dalam memperkuat sistem ketahanan pangan nasional.
Paparan tersebut disampaikan dalam Jamming Session #10 yang mengusung tema "Pangan Lokal: Resolusi Ketahanan Pangan Berkeadilan dan Berkelanjutan.” kegiatan ini diselenggarakan oleh Kelompok Riset Pengetahuan Ekologi Lokal dan Tradisional (LOCALE), Pusat Riset Ekologi BRIN secara daring, Kamis (6/8).
Menurut Wawan, tantangan ketahanan pangan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga menyangkut bagaimana bangsa ini mampu memanfaatkan keragaman sumber daya hayati yang dimiliki. Selama ini, sistem pangan nasional masih sangat bergantung pada beberapa komoditas utama, sementara ribuan jenis pangan lokal yang tersebar di berbagai daerah belum memperoleh perhatian yang memadai, baik dari sisi kebijakan, penelitian, maupun pengembangan pasar.
"Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar berupa keanekaragaman hayati dan pengetahuan masyarakat lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Potensi ini perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan, bukan hanya sebagai pelengkap," ungkap Wawan.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversitas dunia. Meskipun hanya mencakup sekitar 1,3 persen permukaan bumi, Indonesia menjadi rumah bagi lebih dari 12 persen spesies dunia dan sekitar seperempat spesies tumbuhan dunia. Kekayaan tersebut melahirkan ribuan jenis pangan lokal yang tersebar dari Sabang hingga Merauke dan telah dimanfaatkan masyarakat selama ratusan bahkan ribuan tahun.
Lebih lanjut, Wawan memaparkan bahwa sedikitnya 2.564 spesies tumbuhan bermanfaat telah tercatat dalam dokumentasi ilmiah. Data tersebut menunjukkan kekayaan komoditas pangan dan hayati Indonesia, mulai dari buah-buahan, sayuran, serealia, rempah-rempah, tanaman obat, hingga tanaman penghasil pati. Selain itu, berbagai naskah kuno, relief Candi Borobudur, serta penelitian etnobotani modern membuktikan bahwa masyarakat Nusantara telah lama memiliki pengetahuan yang kaya mengenai pemanfaatan tumbuhan sebagai sumber pangan, obat-obatan, maupun kebutuhan hidup lainnya.
Hasil penelitian yang dilakukan Kelompok Riset LOCALE di berbagai wilayah Indonesia juga memperlihatkan bahwa masyarakat lokal memiliki pengetahuan mendalam mengenai pengelolaan tumbuhan pangan dan sumber daya alam. Penelitian di Bali, Sumba Timur, serta berbagai wilayah lainnya mendokumentasikan pemanfaatan flora lokal tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai obat tradisional, minuman herbal, hingga bagian dari praktik budaya dan upacara adat.
Menurut Wawan, pengetahuan ekologi tradisional menjadi aset yang sangat penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya hayati. Masyarakat adat telah mengembangkan sistem pengelolaan ruang dan sumber daya alam yang terstruktur berdasarkan fungsi ekologis, sosial, dan budaya. Sistem tersebut mencerminkan pemahaman yang mendalam mengenai keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam.
"Pengetahuan ekologi tradisional bukan sekadar warisan budaya, tetapi merupakan sumber pengetahuan yang telah teruji dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Pengetahuan ini perlu terus didokumentasikan, dikembangkan, dan dipadukan dengan riset ilmiah modern," ia menjelaskan.
Di sisi lain, Wawan mengingatkan bahwa pengembangan pangan lokal masih menghadapi berbagai tantangan. Pergeseran preferensi masyarakat terhadap pangan modern, minimnya dokumentasi pengetahuan lokal, kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak pada pangan lokal, serta keterbatasan riset dan hilirisasi menjadi beberapa faktor yang menyebabkan potensi besar tersebut belum berkembang secara optimal. Bahkan, pembangunan di sejumlah wilayah juga berpotensi mengurangi akses masyarakat terhadap sumber daya hayati dan mengikis pengetahuan lokal yang telah diwariskan lintas generasi.
Sebagai penutup, Wawan menekankan bahwa penguatan pangan lokal memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Periset, akademisi, pemerintah, pelaku usaha, komunitas/masyarakat, dan media perlu bersama-sama memperkuat riset, mendokumentasikan pengetahuan tradisional, mengembangkan inovasi berbasis pangan lokal, serta mendorong kebijakan yang memberikan ruang lebih besar bagi pemanfaatan sumber daya pangan Nusantara.
"Pangan lokal bukan hanya berbicara tentang makanan. Di dalamnya terdapat keanekaragaman hayati, identitas budaya, sumber daya genetik, kesehatan masyarakat, hingga masa depan ketahanan pangan Indonesia. Oleh karena itu, pengembangannya harus menjadi agenda bersama yang melibatkan banyak pihak," ujar Wawan.(sh/ed.ade,MM)