
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan Indonesia memiliki sedikitnya 2.564 spesies tumbuhan bermanfaat yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber pangan. Dari jumlah tersebut, lebih dari 77 spesies di antaranya merupakan sumber karbohidrat lokal.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Prof. Wawan Sujarwo, mengatakan kekayaan pangan lokal tersebut mencakup berbagai jenis umbi-umbian, kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran, rempah-rempah, hingga tanaman pangan tradisional yang telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat selama ratusan hingga ribuan tahun.
Namun, menurut Wawan, sebagian besar potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat sistem pangan nasional. "Pengembangan pangan lokal sesungguhnya merupakan strategi ekologis, ekonomis, sekaligus sosial. Pangan lokal mampu memperkuat ekonomi masyarakat, melestarikan pengetahuan tradisional, mengurangi jejak karbon akibat distribusi pangan yang panjang, serta menjaga keberagaman genetik tanaman yang sangat penting untuk adaptasi di masa depan," kata Wawan dalam keterangan resmi, Senin (10/8).
Ia menilai, diversifikasi pangan penting dilakukan karena dapat memperluas pilihan konsumsi sekaligus meningkatkan ketahanan sistem pangan menghadapi perubahan iklim, gangguan pasokan, dan gejolak pasar.
Wawan menegaskan ketahanan pangan tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan peningkatan produksi. Dari perspektif ekologi, ketahanan pangan sangat bergantung pada kondisi ekosistem yang menopang produksi pertanian.
"Tidak ada pangan tanpa tanah yang sehat, tidak ada pertanian tanpa air yang tersedia, tidak ada penyerbukan tanpa keanekaragaman hayati, dan tidak ada hasil panen yang stabil tanpa iklim yang mendukung. Dengan kata lain, fungsi ekologi merupakan pondasi utama seluruh sistem pangan," ujarnya.
Menurut dia, Indonesia memiliki modal ekologis yang besar sebagai negara megabiodiversitas. Kekayaan plasma nutfah, keragaman ekosistem, serta ribuan spesies pangan lokal dinilai menjadi aset strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Wawan juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan ekosistem dalam mendukung produksi pangan. Ia mengutip data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang menunjukkan lebih dari 95% produksi pangan dunia bergantung pada tanah yang sehat.
Di sisi lain, sekitar sepertiga lahan pertanian global telah mengalami degradasi akibat erosi, penurunan kesuburan tanah, dan praktik pemanfaatan lahan yang tidak berkelanjutan.
Selain tanah, penyerbukan juga menjadi faktor penting dalam produksi pangan. Sekitar 75% tanaman pangan dunia bergantung, baik seluruhnya maupun sebagian, pada jasa penyerbukan oleh serangga dan satwa liar. "Penurunan populasi penyerbuk akibat hilangnya habitat menjadi ancaman nyata bagi produktivitas pertanian," kata Wawan.
Ia menepis anggapan bahwa konservasi dapat mengurangi produksi pangan. Menurutnya, ekosistem yang sehat justru dapat meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan.
Tanah yang kaya bahan organik, misalnya, mampu menyimpan air dan unsur hara dengan lebih baik. Hutan yang terjaga juga berperan dalam mempertahankan siklus hidrologi dan mengurangi risiko kekeringan. Sementara itu, keanekaragaman hayati dapat menyediakan musuh alami hama sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pestisida.
Karena itu, Wawan mendorong pengembangan pendekatan agroekologi, agroforestri, pengelolaan bentang alam terpadu, serta pertanian regeneratif untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas lingkungan.
"Ketahanan pangan dan konservasi bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan dua sisi pembangunan berkelanjutan yang saling menguatkan. Kita perlu bergeser dari paradigma produksi maksimum menuju produktivitas yang berkelanjutan," ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan pangan lokal perlu didukung data ilmiah, kajian etnobotani, serta pengetahuan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Wawan berharap pengembangan pangan lokal tidak berhenti pada pemanfaatan spesies, tetapi juga mendorong kolaborasi riset, integrasi data, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat sehingga Indonesia memiliki sistem pangan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
"Ketahanan pangan bukan hanya persoalan menghasilkan lebih banyak pangan, tetapi bagaimana memastikan ekosistem tetap mampu memproduksi pangan secara adil, adaptif, dan berkelanjutan. Dengan kata lain, ketahanan pangan adalah cerminan dari ketahanan ekologi," pungkasnya. (Ata/P-3)
Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/920121/brin-2564-spesies-tumbuhan-berpotensi-jadi-sumber-pangan