Pemanfaatan dan Potensi Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb) di Indonesia

 Penulis:
(Revina Indra Putri, Endang Christine Purba) 

Pandanus amaryllifolius
Roxb yang sering disebut pandan wangi dalam bahasa sehari-hari pertama kali dideskripsikan oleh seorang ahli botani bernama William Roxburgh pada tahun 1832, yang kemudian direvisi oleh Benjamin C. Stone pada tahun 1978. P. amaryllifolius merupakan tumbuhan monokotil dengan akar tunggang dan daun yang memanjang dan tersusun secara roset.

Hingga kini, asal-usul P. amaryllifolius masih diperdebatkan, namun spesies ini diduga berasal dari Kepulauan Maluku, Indonesia, di mana satu-satunya spesimen berbunga diketahui. Selain di Indonesia, jenis pandan ini banyak dijumpai di wilayah Asia yang meliputi Sri Lanka, Tiongkok bagian selatan, Vietnam, Thailand, Malaysia dan Filipina (Silalahi et al., 2019), dan kemungkinan besar banyak dibawa perantau Asia Tenggara untuk dibudidaya di negara-negara lainnya (PROSEA, 2013). Nama marga Pandanus sendiri berasal dari Bahasa Melayu pandan dan digunakan untuk menamai seluruh anggota suku pandan-pandanan (Pandanaceae), sementara penunjuk spesies amaryllifolius merujuk pada kemiripan daunnya dengan marga tumbuhan Amaryllis. Di kawasan Flora Malesiana dan sekitarnya, P. amaryllifolius hanya ditemukan sebagai tanaman budidaya dan tidak pernah terlihat dalam perbungaan atau perbuahan (Stone, 1978), sehingga perbanyakannya biasa dilakukan dengan cara vegetatif.

Di Indonesia, P. amaryllifolius telah lama dimanfaatkan untuk beragam kegunaan. Daun pandan wangi digunakan untuk memberi aroma (penyedap) pada makanan oleh masyarakat etnis Batak Karo di Sumatera Utara (Purba et al., 2016), Semende di Sumatera Selatan (Keim, 2017), Dayak Randu di Kalimantan Barat (Rusja et al., 2018), dan Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur (Susiarti et al., 2012); serta sebagai pewarna alami oleh masyarakat etnis Hindu-Bali di Pulau Serangan (Putri, 2014). Aroma khas pada pandan tersebut berasal dari senyawa 2-acetyl-1-pyrroline (ACPY) (Faras et al. 2014). Dalam industri makanan, selain meningkatkan aroma, cita rasa dan warna pada makanan, ekstrak daun P. amaryllifolius juga diketahui berfungsi sebagai pengawet (Silalahi, 2018).

P. amaryllifolius juga banyak dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan ritual. Sebagai contoh, masyarakat Hindu-Bali di Serangan memanfaatkan daunnya sebagai komponen penting banten (sesajen) canang sari (Putri, 2014). Komponen ini disebut kembang rampe, di mana daun pandan wangi diiris tipis-tipis dan diletakkan di bagian atas dan tengah canang, melambangkan rambut Dewa Siwa yang bermakna kebijaksanaan dan pembebasan dari hal duniawi (Anggara et al., 2021). P. amaryllifolius juga dimanfaatkan oleh masyarakat Pulau Flores sebagai bagian sesajen saat melakukan ziarah ke kuburan ataupun tempat-tempat sakral lainnya (Susiarti et al., 2012) .

Dalam bidang kesehatan, masyarakat etnis Batak Karo memanfaatkan P. amaryllifolius sebagai bahan oukup, sauna tradisional khas untuk pemulihan sakit dan peningkatan imunitas tubuh (Purba et al., 2016). Sauna ini menggunakan beberapa tumbuhan aromatik lainnya, misalnya daun dan rimpang Zingiberaceae. Bahan-bahan tumbuhan tersebut direbus, lalu uapnya didistribusikan di dalam ruangan tertutup. Penggunaan spa tradisional tersebut masih dilakukan sampai saat ini, khususnya oleh para ibu yang baru saja melahirkan hingga ± 40 hari setelahnya. Perlakuan ini dipercaya dapat mempercepat proses pemulihan dan menghilangkan kelelahan fisik pasca melahirkan. Saat ini, usaha oukup sangat diminati oleh masyarakat Sumatra Utara khususnya di Medan. Selain itu, secara klinis, P. amaryllifolius diketahui berpotensi sebagai antibakteri, antioksidan, antimalaria dan immunotimulant (Silalahi, 2018; Dila et al., 2020; Rosidah, 2021), serta mengandung flavonoid dan fenolik yang bisa digunakan untuk penyembuhan diuretik, sakit kepala, demam dan arthritis (Bhuyan & Sonowal, 2021).

Kemudahan pembudidayaan serta akses terhadap P. amaryllifolius baik di wilayah pekarangan dan pertanian diharapkan dapat memperluas pemanfaatan pandan wangi untuk beragam kegunaan, dan juga menjadi salah satu tanaman fokus pengembangan uji klinis untuk bahan obat-obatan, khususnya di Indonesia.   

Gambar 1. Budidaya P. amaryllifolius di pekarangan rumah di Bogor, Jawa Barat (dokumentasi pribadi).


 

Gambar 2. Pemanfaatan P. amaryllifolius sebagai banten, bahan penunjang kegiatan ritual oleh masyarakat Hindu-Bali (dokumentasi pribadi).


Referensi

Anggara, I W. B. Linda, R. & Ifadatin, S. (2021). “Pemanfaatan tumbuhan sebagai sesajen canang sari oleh masyarakat Suku Bali di Desa Sedahan Jaya Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara.” Bioma (Jurnal Biologi Makassar), 6(2): 40–54.

Rusja, R. Rusmiyanto, R. & Linda, R. (2018). “Pemanfaatan tumbuhan sebagai pewarna alami oleh Suku Dayak Randu di Desa Suka Damai Kabupaten Melawi.” Protobiont, 7(1): 13–19

Bhuyan, B. & Sonowal, R. (2021). “On overview of Pandanus amaryllifolius Roxb.exLindl. and its potential impact health.” Curr Trends Pharm Res, 8(1): 138–157.

Dila, G. Kahtan, M.I. & Widiyantoro, A. (2020). “Efektivitas ekstrak akar pandan wangi (Pandanus amaryllifolus Roxb.) sebagai antimalarial terhadap jumlah monosit dalam darah mencit (Mus musculus) yang diinfeksi Plasmodium berghei.” Biomedika, 12(1): 16–26.

Faras, A.F. Wadkar, S.S. & Ghosh, J.S. (2014). “Effect of Leaf Extract of Pandanus amaryllifolius Roxb on Growth of Escherichia coli and Micrococcus (Staphylococcus) aureus. International Food Research Journal. 21(1):421-42

Keim, A. P. (2017). “Flora pandan kawasan Semene, Muara Enim, Sumatera Selatan.” Indonesian Journal of Biotechnology and Biodiversity, 1(2): 38–47.

PlantUse English contributors. Pandanus amaryllifolius (PROSEA) [Internet]. PlantUse English, ; 2016 May 3, 13:35 UTC [cited 2022 Jun 26]. Available from: https://uses.plantnet-project.org/e/index.php?title=Pandanus_amaryllifolius_(PROSEA)&oldid=221999.

Purba, E.C. Nisyawati, Silalahi, M. (2016). “The ethnomedicine of the Batak Karo people of Merdeka sub-district, North Sumatra, Indonesia.” International Journal of Biological Research, 4(2): 181-189.

Putri, R.I. Supriatna, J. & Waluyo, E.B. 2014. “Ethnobotanical Study of Plant Resources in Serangan Island, Bali.” Asian Journal of Conservation Biology, 1(2): 135–148.

Rosidah. (2021). “A Mini-Review: Effect of Pandanus amaryllifolius Roxb Leaves for Fish Health.” Asian Journal of Fisheries and Aquatic Research, 12(3): 31–41.

Silalahi, M. (2018). “Pandanus amaryllifolius Roxb (Pemanfaatan dan Potensinya sebagai pengawet makanan)”. Jurnal Pro-Life5, 5(3): 626–636.

Silalahi, M. & Purba, E.C. & Mustaqim, W.A. (2019). Tanaman Obat Sumatra Utara I: Monokotiledon. Jakarta: UKI Press.

Susiarti, S. Djarwaningsih, T. & Keim, A.P. (2012). “Pandan (Pandanaceae) in Flores Island, East Nusa Tenggara, Indonesia: an economic-botanical study.” Reinwardtia, 13(5): 433–439.

Stone, B. C. (1978). “Studies in Malesian Pandanaceae XVII: On the taxonomy of ‘Pandan Wangi’ a Pandanus cultivar with scented leaves.” Economic Botany, 32: 285-293.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama